HULU KALI BRANTAS TERCEMAR

Tim peneliti Lembaga kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) berkerjasama dengan Perum Jasa Tirta 1 Malang melakukan Sensus Serangga Air Sungai Brantas Hulu pada Juni – Agustus 2009 di 5 gunung yang menjadi sumber mata air Kali Brantas yaitu Gunung Kawi, Kelud, Welirang, Wilis dan Arjuna. Sensus serangga air dilakukan untuk menilai kesehatan ekosistem sungai dan mengidentifikasi dampak kerusakan sungai akibat pemanfaatan sungai dan lahan di daerah aliran Sungai Brantas. Pengukuran kualitas air yang selama ini menggunakan parameter Fisikakimia ternyata kurang memiliki akurasi tinggi untuk mengukur kesehatan daerah Hulu sehingga diperlukan parameter khusus yaitu serangga air untuk mendeteksi perubahan terkecil yang terjadi pada kawasan hulu.

“ Pengukuran kualitas air dengan menggunakan serangga air ini kami lakukan karena selama ini pengukuran kualitas air menggunakan parameter fisika kimia seperti DO (Oksigen Terlarut), BOD (Kandungan organik), COD (kadar pencemaran kimia) dan TSS (tingkat padatan terlarut) tidak bisa secara akurat menggambarkan kondisi perairan, karena parameter fisika kimia hanya menggambarkan kondisi perairan sesaat pada waktu pengukuran,” Ungkap Maritha Widya Rahesti anggota peneliti sensus serangga air ecoton, lebih lanjut ia menyatakan bahwa pengukuran kualitas air tidak boleh hanya mengandalkan parameter fisikakimia karena kita akan terlambat melakukan antisipasi perubahan kondisi lingkungan di hulu.

Untuk pengukuran kualitas air menggunakan DO dihasilkan pengukuran pada kelima gunung rata-rata nilai DO diatas 8 mg/L yang menunjukkan bahwa kualitas air di hulu masih sangat bagus/ tidak tercemar karena standar untuk air kelas 1 berdasarkan PP 82/2001 kadar DO maksimal 6 mg/L, semakin tinggi nilai DO semakin baik kualitas perairannya.
Hasil berbeda ditunjukkan oleh hasil pengukuran sensus serangga air yang menunjukkan bahwa kondisi kelima gunung yang menjadi sumber sungai Brantas status kualitas airnya beragam.
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa pengukuran kualitas air dengan menggunakan serangga air lebih sensitive terhadap perubahan, dengan menggunakan parameter DO pada kawasan Brantas di keenam gunung menunjukkan kualitas airnya masih bagus atau tidak tercemar, berbeda dengan kesimpulan pengukuran menggunakan serangga air yang menunjukkan kualitas air pada keenam lokasi hasilnya bervariasi dari yang tidak tercemar (di Kali Leso Gunung Kawi), tercemar ringan hingga tercemar sedang. Kondisi kualitas air yang bervariasi ini berkorelasi dengan kondisi bantaran atau kawasan resapan air yang sudah terganggu oleh aktivitas manusia. Kondisi kualitas air yang tercemar sedang di Kali Bladak Gunung Kelud karena dipengaruhi oleh aktivitas 100 truk/hari penambang pasir dan Batu disepanjang aliran Kali Bladak kondisi ini diperparah dengan alihfungsi lahan sekitar aliran sungai menjadi perkebunan Kopi.
(Naska lengkap kontak email: prigi.bening@gmail.com)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: