KALI SURABAYA SUDAH MATI

SURABAYA | SURYA Online-Sepuluh tahun terakhir, Kali Surabaya seperti ditelantarkan. Kualitas airnya terpuruk dan tidak layak dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum. Padahal, 95 persen bahan baku PDAM Surabaya berasal dari kali yang melintang sepanjang 42 kilometer, dari Mlirip Mojokerto hingga pintu air Jagir Wonokromo.

”Setiap tahun selalu saja terjadi peristiwa iwak munggut (ikan mati massal). Kematian ikan secara massal inipun sempat mengganggu produktivitas PDAM.

November 2007 selama tiga hari PDAM Surabaya tidak beroperasi karena pipa intake (pengambilan air) di Karang Pilang tersumbat bangkai ikan mati,” kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah, Minggu (18/1).

Kejadian ini terulang akhir Oktober 2008, hingga PDAM Surabaya melarang pelanggan selama dua hari tidak mengonsumsi air hasil olahan PDAM, karena dikhawatirkan air telah terkontaminasi bahan berbahaya. Dari hasil kajian Ecoton, Kali Surabaya telah mengalami kelebihan daya tampung beban pencemaran.
”Volume limbah yang dibuang di Kali Surabaya setiap harinya mencapai 74 ton BOD (Biological Oxygen Demand). Padahal, kemampuan tampung Kali Surabaya tidak lebih dari 35 ton BOD/hari. Kondisi ini membuat Kali Surabaya terancam menjadi Kali Mati,” paparnya.

”Pencemaran yang masuk ke Kali Surabaya umumnya berupa bahan organik yang berasal dari limbah cair rumah tangga limbah dan limbah cair industri. Kajian kami menunjukkan bahwa Kali Surabaya telah tercemar beragam logam berat seperti Timbal (Pb), Krom (Cr) dan Merkuri (Hg),” ujar Prigi.

Selain pencemaran logam berat, air kali Surabaya telah terkontaminasi bakteri E-coli yang umumnya berasal dari kotoran manusia dan berasal dari 205 kakus terapung di sepanjang kali.

Bakteri E-Coli di Karang Pilang dan Ngagel/jagir mencapai 64.000 sel bakteri/100 ml contoh air. Sedangkan di intake Kali Pelayaran, E-Coli di air mencapai 20.000 sel bakteri/100 ml contoh air. Padahal sebagai bahan baku air minum, jumlah E-Coli dalam air tidak boleh melebihi 1.000 sel bakteri/100 ml contoh air.

Tingginya tingkat pencemaran, menyebabkan penurunan kualitas air yang berdampak terhadap punahnya beragam biota air Kali Surabaya, terutama jenis-jenis ikan khas Kali Surabaya, seperti sili, papar, dan belut, yang kini sangat sulit ditemukan. Selain itu, juga menyebabkan peningkatan biaya kesehatan masyarakat akibat sakit yang diderita.

Sementara itu, dosen FKM Unair Drs Abdul Rohim Tualeka Mkes mengatakan, ”Masyarakat sering diabaikan dalam upaya-upaya pengendalian. Padahal, masyarakatlah yang aktif berinteraksi dengan sumber pencemaran,” ungkapnya. Pendekatan yang sekarang dilakukan itu modelnya command and control serta tidak sistematis, sehingga tidak menyentuh akar persoalan.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa sendirian mengendalikan pencemaran Kali Surabaya, perlu peran Pemkab/Pemkot dan instansi lain seperti industri, BUMN/BUMD, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Karenanya, kata Rohim, pola pengendalian pencemaran Kali Surabaya perlu diubah dengan menggunakan pendekatan atur diri sendiri, khususnya pendekatan insentif dan disintensif.

Dalam pendekatan disintensif, masyarakat dan media digerakkan untuk mengontrol industri. Sedangkan pendekatan insentif dijalankan dengan mendukung setiap program masyarakat dan industri dengan menggunakan media atau sistem nilai tersebut.

”Namun, dalam langkah awal, terlebih dahulu dilakukan pelibatan masyarakat dalam program, menyosialisasikan program, dan juga mengedukasi masyarakat, ” katanyaSTOP CEMARI KALI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: