BLURON TINGGAL KENANGAN

Senin, 19 Januari 2009 | 10:33 WIB | Kategori: Opini | ShareThis

Selain fungsi sosial, Kali Surabaya menggerakkan roda perekonomian Kampung. Kali Surabaya saat itu menyediakan Sumber tambang berupa pasir hitam kelas satu yang diminati para pemborong di Surabaya, puluhan kapal pengangkut pasir biasanya mengisi penuh muatan dan membongkarnya di Gunungsari.

MASYARAKAT yang hidup dan dilahirkan di daerah aliran Kali Surabaya selalu menempatkan air Kali Surabaya sebagai sumber kehidupan. Air Kali Surabaya telah menjadi bagian dari hidup. Pemprov Jatim maupun Pemkot Surabaya tidak berkutik menghadapi kemerosotan kualitas air Kali Surabaya.

Membeludaknya jumlah penduduk yang menjejali bantaran kali dan berjubelnya industri yang memanfaatkan sebagai tempat pembuangan, membuat Kali Surabaya berubah menjadi sumber kematian.

Air Kali Surabaya yang dimanfaakan PDAM Surabaya telah terkontaminasi Bahan Beracun Berbahaya dari limbah industri dan limbah domestik. Setiap hari Kali Surabaya harus menampung 500 m3/detik limbah cair dari kedua sumber pencemar. Semua pihak terlalu mengutamakan diri sendiri tanpa menghitung dampak kerusakan yang ditimbulkan.

Seharusnya kita lebih bijaksana memanfaatkan dan mengelola sumberdaya air yang tersisa berupa air Kali Surabaya, karena ada hak anak-anak kita untuk bisa memanfaatkan air Kali Surabaya pada masa datang, atau kita semua sudah bertekad bulat bersekongkol untuk merampok hak mereka atas air Kali Surabaya yang bersih?

Pada tahun 80-an, warga yang tinggal di aliran Kali bersyukur atas karunia Tuhan berupa air Kali Surabaya yang bersih, dapat menjadi wahana bermain dan mengibur diri. Bluron menjadi kewajiban yang harus dilakukan pada siang hingga sore hari, bahkan pada hari libur bisa seharian bluron di Kali.

Kungkum (berendam), slurup (menyelam), ngintir (mengikuti arus di atas gedebog bantang pisang) dan ngelangi (berenang) adalah ritual wajib dalam bluron, Keempat ritual ini akan lebih mengasyikkan bila dilakukan secara berkompetisi. Balapan ngelangi biasanya dilakukan dengan menyeberangi lebar sungai yang mencapai 25 meter.

Untuk balapan slurup dalam waktu yang lama dalam air atau dilakukan lomba mengambil batu yang ada didasar sungai, maklum 20 tahun yang lalu dasar Kali Surabaya di daerah Karang Pilang, Warugunung dan Bambe masih berupa pasir dan batu-batuan.

Kali Surabaya tempat yang menyenangkan bagi keluarga untuk bercengkerama. Selepas Subuh bapak, ibu dan anak bisa bluron bersama. Air terasa hangat dan menyegarkan. Air disibak, dipukul permukaannya dengan telapak tangan terbuka, kadang menggenggam, mengeluarkan bunyi ceblung, ceblung, cepak, ceblung, cepak, nyaring sekali seperti kendang.

Untuk membersihkan luka pasca-khitan, kungkum disungai adalah solusinya. Tak jarang juvenil ikan mengerumuni bagian yang terluka dan mematuk-matuknya hingga bersih. Air kali juga wajib digunakan memandikan bayi dalam ritual turun tanah (bayi berumur 6 bulan).

Selain fungsi sosial, Kali Surabaya menggerakkan roda perekonomian Kampung. Kali Surabaya saat itu menyediakan Sumber tambang berupa pasir hitam kelas satu yang diminati para pemborong di Surabaya, puluhan kapal pengangkut pasir biasanya mengisi penuh muatan dan membongkarnya di Gunungsari kemudian untuk kembali pulang perahu harus ditarik dengan tali oleh seorang penarik yang berjalan menyusuri bantaran Kali dari Gunungsari hingga Karang Pilang.

Maklum, saat itu Bantaran Kali Surabaya belum dijejali rumah dan bangunan pabrik seperti sekarang, menurut hasil sensus Dinas Pengairan Jatim bangunan di Bantaran Kali Mencapai 7000 buah. Selain menghasilkan pasir, bantaran Kali surabaya menyediakan bahan baku batu bata, puluhan bahan seratusan linggan (workshop pembuatan batu bata) banyak dijumpai di sepanjang bantaran Kali Surabaya.

Air yang bersih dan bebas dari polutan menjadi rumah ideal bagi belasan jenis ikan seperti sili, benthik, bader, bader merah, belut, brenjilan, kuthuk, keting, lele, mujaer, nila, sepat, papar, tageh, wader pari, wader gatul, rengkik, dan jendil.

Ikan-ikan ini sangat populer dan mudah dijumpai di sepanjang sungai, bahkan saat memijahkan anaknya, ikan-ikan ini bergerombol dalam jumlah ratusan ditepian sungai yang beralang-alang. Ketersedian ikan ini membentuk suatu interaksi antara sungai dan manusia, menciptakan sebuah budaya warga bantaran kali Surabaya.

Aktivitas yang menunjukkan keterkaitan warga dengan kali Surabaya adalah beragamnya aktivitas pencari ikan, dengan berbagai cara seperti menjaring, jaring yang digunakan antara lain jaring tebar ataupun jaring apung yang dipasang melintang dengan diberi alat pengapung untuk mengambangkan dan jaringpun hanyut searah arus air.

Cara lainnya adalah gogo kijeng dan remis (menyelam untuk mengambil sejenis kerang air tawar di dasar sungai), setiap hari gogo kijeng bisa memperoleh kijeng/remis satu karung beras 25 kg, kijeng dan remis umumnya tinggal pada substrat sungai (dasar sungai yang berpasir).

Ada lagi yang disebut njegok kutuk (memancing ikan dengan umpan Precil anak katak), memasang beberapa pancing dengan seutas senar tak kurang dari 1meter dengan umpan precil, sore kita memasang, esok paginyapun kalo lagi musim kutuk, beberapa ekor bisa terpancing.

Mencari hasil sungai lainnya adalah dengan mancing bulus (penyu air tawar) , memacing bulus umumnya menggunakan pancing ombyok (lebih dari satu pancing) dan balo (pemberat yang besar) dan senar tanpa tongkat pancing dengan memakai umpan usus ayam.

Kalau beruntung bulus seberat 50 Kg dapat kita bawah pulang sebagai lauk pauk dan dibagikan ketetangga kanan-kiri. Metode yang digunakan sering digunakan pada musim hujan adalah memasang wuwu (perangkap ikan terbuat dari bambu berbentuk tabung) dan esok harinya mereka membawa pulang seekor rengkik, dan bader. Wuwu dipasang ditepian sungai yang masih liat.

Tingginya pencemaran yang selama 20 tahun terjadi di Kali Surabaya merampas semuanya, tanpa sedikitpun meninggalkan sisa. Kini, hanya kenangan indah saat bluron di sungai dan mencoba untuk bermimpi suatu saat anak-anak kami bisa meneguk nikmatnya bluron di Kali Surabaya.

Prigi Arisandi
Dewan Lingkungan Hidup Jawa Timur
SUMBER :http://www.surya.co.id/2009/01/19/bluron-tinggal-kenangan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: