DAMPAK POLUSI IKAN KALI SURABAYA MENYUSUT

Hasil Kajian eksplorasi Keanekaragaman jenis ikan di Kali Surabaya menunjukkan penurunan kualitas air Kali Surabaya diikuti dengan penurunan keanekaragaman jenis ikan.
“Tidak seperti manusia yang apabila dirinya terganggu akan melakukan antisipasi, modifikasi sehingga tidak membawa dampak pada diri manusia,” Ujar Daru Setyo Rini peneliti senior ecoton, ia mencontohkan apabila suhu udara panas atau udara kotor maka manusia akan mengantisipasinya dengan Air Conditioner (AC). Hal ini berbeda dengan ikan atau biota air lainnya yang tidak bisa memodifikasi perubahan lingkungan sehingga apabila terjadi pencemaran maka biota air sungai yang sensitive terhadap pencemaran maka mereka akan punah atau pindah ke lingkungan yang masih bisa mendukung kehidupan mereka. Kondisi ini sama dengan keberadaan jenis-jenis ikan yang sensitive di Kali Surabaya seperti keting (nama latin: Arius caelatus), Papar (Notopterus chitala H.B)dan Jendil (Family Ariidae) pada tahun 80-an ketiga jenis ini umum dijumpai disepanjang Kali Surabaya dari Karangpilang hingga Mlirip, namun survey yang dilakukan ecoton pada September –Oktober 2009 ketiga jenis ini hanya dapat dijumpai pada Kali Surabaya sector hulu yang meliputi Mlirip-Sumengko, selebihnya pada bagian lain Kali Surabaya ketiga jenis ini sudah tidak dapat dijumpai
di Hulu Kali Surabaya masih dapat dijumpai 5 Spesies ikan yaitu Papar, Keting, Jendil, Brenjelan, Bader, dengan kualitas air kategori kelas 1, untuk bagian tengah hanya dijumpai 4 spesies yaitu Papar, Keting, Jendil dan bader, dengan Kualitas air yang sudah menurun namun masih termasuk dalam kategori kualitas air kelas 1 yang ditunjukkan dng parameter DOnya mencapai 4,8 ppm, sedangkan di kawasan Hilir hanya dijumpai 2 jenis ikan dengan kualitas air kelas 3 atau hanya layak untuk ternak.
Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan basah-ecoton, melakukan kajian eksplorasi Keanekaragaman jenis ikan di Kali Surabaya bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingginya pencemaran air terhadap populasi ikan yang ada di Kali Surabaya.
“Melalui penelitian ini kami ingin melihat dampak perubahan kualitas air dari hulu ke hilir pada populasi dan keanekaragaman jenis ikan yang ada di kali Surabaya,” Ungkap Daru Setyo Rini, lebih lanjut ia menyatakan bahwa melalui penelitian diharapkan ada hal baru yang dapat diangkat menjadi komponen penting dalam upaya pemulihan Kali Surabaya.” Pemerintah sangat lamban dan tidak memiliki program yang serius untuk bisa memulihkan kualitas air Kali Surabaya,karena sebenarnya peruntukkan kali Surabaya bukan hanya untuk bahan baku PDAM namun juga sumber kehidupan dan cikal bakal peradaban sehingga perlu terus digali potensi dan kerugian yang akan dialami bila masyarakat saat ini mengabaikan kali Surabaya,” lanjut Daru Setyo Rini.

Dalam penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa semakin kearah hilir kualitas air Kali Surabaya semakin memburuk dan berdampak pada berkurangnya keanekaragaman jenis dan menurunnya populasi ikan. Kali Surabaya bagian hulu teryata masih bisa menunjang kehidupan beragam jenis ikan, kualitas airnya pun masih diatas baku mutu kelas1 PP 82/2001 ttg pengelolaan sumberair dan kualitas air.

Penelitian ini dimulai pada Bulan September dan berakhir pada 5 Oktober 2009.”Penelitian kajian ikandi Kali Surabaya berakhir pada 5 oktober sedangkan untuk Kali Brantas secara keseluruan sudah dimulai pada Juni 2009 di kawasan Hulu dan Oktober ini akan diakhiri di kawasan Brantas tengah meliputi Kediri, Jombang dan Mojokerto,” ujar Amiruddin Mutaqien coordinator penelitian.

Peringatan Dini
Menyusutnya jenis-jenis ikan di kawasan hilir KaliSurabaya seharusnya menjadi peringatan dini bagi pengelola Kali Surabaya seperti Perum Jasa Tirta 1 Malang, Pemprov Jawa Timur untuk menyusun program pemulihan Kali Surabaya dengan memperhatikan aspek-aspek ekologis.
1. Perlindungan kawasan bantaran sungai dari alihfungsinya sebagai daerah resapan cathment area dan daerah perlindungan bagi badan air, 7800 bangunan diatas Bantaran disepanjang kali Surabaya sudah menjadi bukti bahwa perlindungan kali Surabaya bukan menjadi masalah prioritas bagi Pemprov Jatim dan Perum Jasa Tirta 1 Malang, untuk melindunginya maka perlu ditetapkannya sebuah kebijakan Gubernur untuk menetapkan kawasan bantaran menjadi Kawasan Lindung. Kawasan bantaran yang ditumbuhi pohon rindang memiliki fungsi memberikan naungan bagi ikan disungai, bahkan perakaran tumbuhan ditepi sungai berfungsi sebagai nursery ground (perlindungan bagi anak-anak ikan).
2. Implementasi Ekohidrolik pada bangunan air. Banyak sekali bendungan, parepat/tanggul buatan yang dibuat dengan menggunakan semen/cor/ram-raman kawat besi dengan membabat habis vegetasi sekitar sungai secara hidrologi memang akan memperlancaar aliran sungai, namun pola konstruksi seperti ini akan menghilangkan fungsi ekologis bantaran yang sebelumnya menjadi tempat berlindungnya ikan. Bendungan yang ada sekarang tidak ekologis karena memotong jalur transportasi ikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: