Mata Pelajaran Kali Brantas

Kali Brantas Berpeluang Jadi Mata Pelajaran Monolitik

Kegiatan Biassesment atau pemantauan kualitas air dengan menggunakan biotilik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui secara dini kondisi riil tingkat pencemaran sungai Brantas. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ecoton) mengundang 200 pelajar dari 20 Sekolah di Wilayah Jombang, Mojokerto, Gresik dan Surabaya (SDN Petrokimia Gresik, SMPN 1 Gresik, SMPN 1 Kedamean, SMPN 3 Gresik, SMPN 2 Kebomas, SMPN 1 Wringinanom, SMPN 1 Driyorejo, SMAN 1 Wringinanom, SMAN 1 Driyorejo, SMPN 1 Diwek Jombang, SMPN 1 Tembelang Jombang, SMAN 3 Jombang, SMPN 1 Dlanggu Mojokerto, SMPN 1 Ngoro, SMAN 1 Gondang, SDN Sumbersono, SDN Kepanjen 2 Jombang, SD Theresia Surabaya, SMPN 16 Surabaya. Kegiatan pemantauan kualitas air dengan Biotilik (Bioassessment) dibuka secara resmi oleh Ratnadi Ismaon SH sekretaris Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur pada Selasa 17 Nopember 2009, program selam 2 hari ini berakhir pada Rabu 17 Nopember 2009. “Program biossessment ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah pencemaran yang terjadi di Kali Brantas,” Ujar Ratnadi Ismaon dihadapan peserta bioassessment yang hadir di pendopo Kecamatan Wringinanom lebih lanjut Ratnadi Ismaon menyatakan bahwa masalah pencemaran lingkungan akibat perilaku manusia dan Pendidikan merupakan salah satu cara untuk bisa meruba perilaku manusia untuk lebih menghargai lingkungan.” Kegiatan pemantauan kualitas air dengan serangga air atau bioassessment dan sungai Brantas ini punya peluang untuk menjadi sebuah mata pelajaran atau minimal bisa menjadikan Sungai brantas sebagai Muatan lokal,” Ungkap Ratnadi Ismaon. Sekretaris Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur menyatakan ketertarikannya pada program Bioassessment karena program ini mudah, murah, manfaat dan Massal.” “kegiatan bioassessment ini mudah dilakukan oleh semua usia, alatnya bisa dibuat sendiri dan murah, bisa bermanfaat lebih awal melakukan antisipasi karena hasil pengukuran langsung bisa diketahui saat itu juga, berbeda dengan hasil laboratorium yang harus menunggu dua minggu dan sifatnya massal karena bisa dilakukan bersama-sama dengan orang banyak,” ungkap sekretaris Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur.
“ Kegiatan Bioassessment untuk mengetahui kualitas air Kali Brantas bermaksud untuk melatih generasi muda melalui Sekolah untuk peduli dan ikut menjaga serta mengawasi kelestarian sungai Brantas dari Kerusakan yang disebabkan oleh pencemaran maupun perusakan ekosistem,” Ujar Drs Sutrisno MPd, ketua Panitia kegiatan Training, selanjutnya Kepala Sekolah SMPN 1 Gresik ini juga menambahkan bahwa Program Bioassessment melalui sensus serangga air diharapkan bisa menjadi sumber informasi tentang kelayakan sungai Brantas untuk dijadikan sumber baku air bersih.
Menurut Data ecoton menunjukkan Kali Brantas kini menghadapi tiga ancaman besar yaitu hilangnya mata air dihulu akibat alihfungsi lahan, di tengah ancaman kerusakan disebabkan oleh penambangan pasir mekanik dan kawasan hilir Brantas terancam rusak akibat tingginya tingkat Pencemaran.” Mata air diHulu Brantas kini menyusut tinggal 46 titik padahal dua tahun lalu masih dijumpai 111 mata air, hal ini disebabkan oleh aktivitas alihfungsi lahan hutan untuk lahan budidaya maupun bencana kebakaran hutan,” ungkap Amiruddin Mutaqien koordinator Kampanye ecoton, lebih lanjut Amiruddin menyatakan bahwa di daerah tengah setiap hari 4 juta ton pasir disedot dengan alat mekanik yang menyebabkan degradasi dasar sungai hingga 6 meter, keruskan Brantas diperparah dengan 330 ton/hari buangan limbah domestik dan limbah industri ke Kali Brantas. “Padahal Kali Brantas ini merupakan sungai yang penting karena digunakan sebagai bahan baku PDAM oleh 17 kota/Kabupaten yang dilalui Brantas,” Ungkap Amiruddin, bahkan ia menambahkan bahwa PDAM Surabaya 95% bahan baku air bersihnya berasal dari Kali Brantas. Setelah acara resmi dibuka peserta dibagi dalam 4 kelompok dan mendapatkan penjelasan singkat tentang metode bioassessment. Maka tak menunggu lama seratusan pelajar ini menceburkan diri kesungai Brantas dan melakukan bioassessment dengan menggunakan jaring, setelah 5 menit mengais dasar sungai dan tebing sungai hasil tangkapan dalam jaring dituang dalam nampan dan sebagain kelompok melakukan sortir untuk diidentifikasi jenisnya.”Penelitian kualitas air dengan serangga ini asyik, karena ternyata banyak serangga seperti capung yang sangat membutuhkan air bersih untuk bisa berkembang biak,” Ungkap Pricillia siswi Kelas V SD Theresia Surabaya. Meskipun waktu untuk menjaring telah usai puluhan anak masih juga asyik bermain air disungai yang dangkal dan berarus deras di Desa Sumberame Kecamatan Wringinanom. Hasil pengukuran kualitas air dengan Bioassessment menunjukkan bahwa kualitas air Kali Brantas yang ada di wilayah kecamatan Wringinanom dalam kondisi kotor, kesimpulan ini diambil dengan melihat jenis biotilik yang ditemukan hanya 9 jenis yaitu : Nimfa Capung Jarum (Coenagrionidae), Nimfa Capung Biasa (Gomphiidae), Kijing, Remis, Sipung kolam (Thiaridae), Cakung/udang air tawar (Atydae), Yuyu (Parathelphusidae), Larva Merutu (Chironomous) dan cacing darah (Lumbricullidae). “Peserta bioassessment menemukan biotilik yang termasuk dalam tipe biotilik yang toleran sehingga kondisi sungainya masuk dalam kategori sungai kotor,” Ungkap Amiruddin Mutaqien. Lebih lanjut Amiruddin menyatakan bahwa kotornya sungai Brantas di Wilayah Sumberame karena kondisi bantaran sungai yang tidak ditumbuhi pohon sehingga suhu air sungai menjadi meningkat dan menurunkan kadar oksigen diair maka seharusnya ada upaya penghijauan kawasan bantaran. Diakhir kegiatan Semua peserta melakukan penanaman pohon dibantaran Brantas.
Catatan Penting : Kali Brantas sejak tahun 2006 telah ditetapkan oleh Pemerintah melalui PP 42/2008 tentang pengelolaan sumberdaya air menjadi sungai startegis nasional. Hal ini merujuk pada besarnya kontribusi DAS Brantas pada stok pangan nasional yang mencapai 9 juta ton beras/tahun atau sebesar hampir 18% dari stok pangan nasional. Kali Brantas di Jawa Timur mempunyai panjang 320 km dan memiliki DAS seluas 12.000 km2 yang mencakup kurang lebih 25% luas Propinsi Jawa Timur. Penduduk di DAS Kali Brantas saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 15,5 juta orang (angka tahun 2003) atau sebesar 43% dari penduduk Propinsi Jawa Timur. Kepadatan rata-rata di DAS Kali Brantas 1.290

Gresik 17 Nopember 2009
Prigi Arisandi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: